2022-02-09 10:23:39 Administrator

Angka prevalensi hipertensi terus meningkat

Epidemiologi hipertensi secara global sangat tinggi. Angka prevalensi hipertensi terus meningkat. Prevalensi hipertensi terus meningkat tak hanya pada populasi di negara miskin dan berkembang, tetapi juga di negara maju. Dalam 20 tahun, jumlah penderita bertambah 400 juta hingga total mencapai 1 triliun pengidap hipertensi pada tahun 2008. 40% penduduk usia ≥ 25 tahun mengalami hipertensi. Tingginya kasus hipertensi diduga disebabkan oleh peningkatan usia, obesitas serta pola diet tinggi garam.

 Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang menetap secara persisten di atas normal. Selama ini, hipertensi dapat didiagnosis apabila terjadi peningkatan tekanan darah sistolik (TDS) ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik (TDD) ≥90 mmHg.

Hipertensi terdiri atas :

1.    stadium I (TDS 140-159 mmHg atau TDD 90-99 mmHg)

2.    stadium II (TDS ≥160 mmHg atau TDD ≥100 mmHg)

Akan tetapi American Heart Association (AHA) mengeluarkan pedoman baru dengan cut-off  tekanan darah lebih rendah yakni TDS ≥130 mmHg atau TDD ≥80 mmHg. Penegakan diagnosis didasari oleh pengukuran tekanan darah dalam dua kali pengukuran dengan hasil memenuhi kriteria hipertensi.

Tekanan darah dibagi menjadi tekanan sistolik dan tekanan diastolik. Tekanan sistolik adalah tekanan saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh, sedangkan tekanan diastolik adalah tekanan saat jantung berelaksasi sebelum kembali memompa darah.

Gejala Hipertensi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala. Namun, pada beberapa orang dengan tekanan darah yang sangat tinggi dapat muncul gejala berupa:

  • Sakit kepala
  • Mimisan
  • Nyeri dada atau sesak napas

Meski demikian, gejala hipertensi ini tidak spesifik dan baru muncul jika tekanan darah terlalu tinggi dan mengancam nyawa.

Penyebab Hipertensi

Penyebab tekanan darah tinggi atau penyebab hipertensi dibagi menjadi:

Hipertensi primer

Hipertensi primer menyerang 90% penderita hipertensi. Penyebabnya tidak diketahui dengan pasti dan cenderung terjadi bertahap selama bertahun-tahun. Faktor gaya hidup dan genetik diduga memiliki peranan penting.

Hipertensi sekunder

Hipertensi yang diketahui penyebabnya, terjadi pada 5-10% penderita hipertensi. Biasanya muncul tiba-tiba dan menyebabkan tekanan darah yang lebih tinggi daripada hipertensi primer.

Beberapa kondisi dan obat-obatan yang dapat menyebabkan hipertensi tipe ini antara lain sleep apnea, masalah ginjal, tumor kelenjar adrenal, masalah tiroid, cacat bawaan dalam pembuluh darah, dan obat-obatan tertentu (pil KB, obat flu, obat antinyeri).

 

Diagnosis Hipertensi

Diagnosis tekanan darah tinggi atau hipertensi sangat mudah sekali, yakni dengan dengan menggunakan alat pengukur tekanan.

Pengukuran tekanan darah dibagi menjadi empat kategori umum:

  • Tekanan darah normal. Tekanan darah Anda normal jika di bawah 120/80 mm Hg.
  • Prahipertensi adalah tekanan sistolik yang berkisar dari 120-139 mm Hg, atau tekanan darah diastolik yang berkisar dari 80-89 mm Hg. Prahipertensi cenderung memburuk dari waktu ke waktu.
  • Hipertensi tahap 1 adalah tekanan sistolik berkisar 140-159 mm Hg, atau tekanan diastolik berkisar 90-99 mm Hg.
  • Hipertensi tahap 2 tergolong lebih parah. Hipertensi tahap 2 adalah tekanan sistolik 160 mm Hg atau lebih tinggi, atau tekanan diastolik 100 mm Hg atau lebih tinggi.

Dokter mungkin akan melakukan dua sampai tiga kali pembacaan tekanan darah, masing-masing pada tiga atau lebih pertemuan terpisah sebelum mendiagnosis Anda dengan hipertensi. Hal ini dikarenakan tekanan darah biasanya bervariasi sepanjang hari.

Selain itu, dokter mungkin akan meminta Anda untuk mencatat tekanan darah Anda di rumah dan di tempat kerja untuk memberikan informasi tambahan.

Pengobatan Hipertensi

Pengobatan tekanan darah tinggi atau hipertensi yang utama adalah dengan modifikasi gaya hidup. Pola hidup sehat yang dapat diterapkan, di antaranya:

  • Mengurangi asupan garam
  • Olahraga teratur
  • Menurunkan berat badan
  • Berhenti merokok

Obat antihipertensi diberikan jika tidak ada perubahan setelah modifikasi gaya hidup. Ada banyak jenis obat antihipertensi yang terdiri dari golongan ACE-inhibitor, beta-blocker, thiazide, angiotensin II receptor blockers, calcium chanel blocker, dan sebagainya.

Semua obat tersebut berfungsi menurunkan tekanan darah tinggi dengan cara kerja yang berbeda-beda. Indikasi pemberian obatnya pun berbeda-beda disesuaikan dengan usia, derajat hipertensi, dan penyakit lain yang mendasari.

Awalnya dokter akan memberikan satu jenis obat hipertensi dengan dosis paling rendah dan diobservasi selama beberapa waktu. Jika tidak efektif, maka dokter akan meningkatkan dosis obat atau menambahnya dengan obat antihipertensi yang lain.

Pencegahan Hipertensi

Hipertensi bisa diatasi dengan menjalani pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan sehat, menghentikan kebiasaan merokok, dan mengurangi konsumsi minuman berkafein. Namun, jika tekanan darah sudah cukup tinggi, pasien juga diharuskan mengonsumsi obat penurun tekanan darah.

Untuk mencegah tekanan darah tinggi, lakukan olahraga secara rutin dan jaga berat badan agar tetap ideal. Periksakan juga tekanan darah secara berkala ke dokter, terlebih jika Anda memiliki faktor yang dapat meningkatkan risiko hipertensi.

Tabel Modifikasi Dietary Approaches To Stop Hypertension/DASH

 

Bahan Makanan

Porsi Harian

Ukuran Rumah Tangga

Lemak dan minyak

2-3 penukar

  • 1 sendok teh margarin
  • 1 sendok teh minyak sayur
  • 1 sendok makan mayonnaise rendah lemak/ salad dressing

Sweets dan gula

5 penukar/ minggu

  • 1 sendok makan gula pasir
  • 1 sendok makan jelly atau selai
  • 1/2 gelas sorbet, gelatin
  • 1 gelas lemonade

Garam

1 penukar

1 sendok teh kecil

 

Ditinjau oleh : dr. Diny Anggrayni