2024-07-15 09:40:10 Administrator

ANEMIA DAN INDEKS ZAT BESI YANG BURUK DIKAITKAN DENGAN KERENTANAN TERHADAP KEJANG DEMAM PADA ANAK-ANAK: SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIS DAN META-ANALISIS

LAPORAN PENELITIAN

Oleh:

- dr. Hj. Rini Sulviani, Sp.A, M. Kes

- dr. William Kamarullah

- Dokter Muda Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak

Periode 12 September s.d. 19 November 2022 FKIK UNIKA Atma Jaya


 

ABSTRAK

Pendahuluan

Kejang demam (KD) merupakan jenis kejang yang paling sering dialami pada anak di bawah usia lima tahun, dan terdapat berbagai faktor risiko kejang demam yang telah ditemukan. Beberapa studi meneliti hubungan antara anemia defisiensi besi (ADB) dan kejang demam pada anak, namun mendapatkan hasil yang tidak konsisten. Oleh karena itu, peneliti hendak menelaah hubungan antara anemia defisiensi besi (ADB) dan indeks ADB (mean corpuscular volume (MCV), serum iron (SI), total iron binding capacity (TIBC), dan ferritin) serta kaitannya dengan KD.

Metode

Pencarian literatur menggunakan beberapa database seperti PubMed, Europe PMC, dan ScienceDirect, dimulai dari September s.d. November 2022. Studi memenuhi syarat bila penelitian menginvestigasi hubungan ADB dan indeks ADB dengan kemungkinan kejadian kejang demam.

Hasil

Meta-analisis yang disusun mencakup 20 studi kasus-kontrol dengan total 3856 partisipan. Studi ini menunjukkan bahwa ADB, MCV rendah, SI rendah, TIBC tinggi, dan kadar ferritin yang rendah dikaitkan dengan peningkatan risiko kejang demam, dengan jangkauan odds ratio (OR) 1.24 hingga 1.59. Selain itu, tes diagnostik akurasi meta-analisis menunjukkan bahwa kadar serum feritin yang rendah memiliki nilai kurva sensitivitas-spesifisitas tertinggi di antara indeks ADB lain.

Kesimpulan

Terdapat hubungan signifikan antara ADB dengan indeksnya terkait dengan kejadian KD. Kadar feritin yang rendah menjadi penanda laboratorium prognostik yang baik dalam memprediksi kejadian KD. Oleh karena itu, tindakan pencegahan ADB di komunitas harus diperhatikan demi mencegah risiko KD di masa mendatang.

 

Kata kunci: kejang demam, anemia defisiensi besi, mean corpuscular volume, serum besi, total iron binding capacity, ferritin

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Kejang yang disertai demam dan tidak disebabkan karena proses intrakranial maupun gangguan metabolik lain diklasifikasikan sebagai kejang demam (KD).1 Kejang demam merupakan kelompok kejang yang paling umum terjadi pada anak di bawah lima tahun, berkontribusi terhadap 2 hingga 5% dari populasi anak secara global.2 Prevalensi kejang demam beragam di antara negara, tergantung dari beragam faktor risiko yang terlibat. Di Asia, prevalensi kejang demam pada anak berusia di bawah lima tahun mencapai 8 hingga 11%.3 Sebagai tambahan, total prevalensi KD di Indonesia mencapai 8.3%.4 Hal ini membuktikan bahwa prevalensi KD di Asia lebih tinggi dibandingkan prevalensi global, dan ini menunjukkan sebuah masalah yang perlu ditangani segera.

Berbagai studi telah mengidentifikasi faktor risiko dari KD, termasuk faktor genetik, kondisi sosial ekonomi yang rendah, status gizi buruk, infeksi, dan berbagai defisiensi mikronutrien, salah satunya adalah besi.5–7 Besi merupakan komponen anorganik yang berperan sebagai kofaktor beberapa enzim dan terlibat dalam produksi serta fungsi dari neurotransmiter, serta berbagai reaksi neurokimia seperti pembentukan selubung mielin, metabolisme neurotransmitter, dan pembentukan energi di otak. Defisiensi besi sering dikaitkan dengan kemampuan kognitif yang buruk dan berpotensi untuk menyebabkan kerusakan permanen di sel otak.8 Menariknya, waktu kejadian anemia defisiensi besi (ADB) dan KD memiliki rentang usia yang sama, dan berbagai penelitian telah menyimpulkan bahwa defisiensi besi berperan penting dalam perkembangan KD.9

Berbagai investigasi mendukung konsep bahwa risiko KD lebih besar pada individu dengan defisiensi besi dibandingkan dengan grup kontrol.9–13 Akan tetapi, ada pula studi yang menyatakan bahwa risiko KD pada anak yang mengalami anemia secara statistik tidak signifikan dibandingkan dengan anak tanpa kejang demam.14–18 Meskipun demikian, ADB telah menjadi beban dunia yang memerlukan intervensi karena merupakan masalah nutrisi yang dapat diantisipasi dengan skrining dan intervensi terapeutik yang tepat.

Meta-analisis terbaru oleh Kwak dkk. tahun 2017 menunjukkan bahwa ADB, kadar MCV yang rendah, dan serum feritin yang rendah dihubungkan dengan KD, namun tidak untuk serum besi.19 Meskipun demikian, terbatasnya jumlah penelitian yang dimasukkan ke dalam analisis sub kelompok, kurangnya data tentang hubungan total iron binding capacity (TIBC) dan serum iron (SI), ketidakjelasan heterogenitas antar studi yang tinggi, faktor perancu (kovariat) yang tidak dikontrol, dan fakta bahwa meta-analisis ini dilakukan pada tahun 2017, menyebabkan samarnya hubungan antara kedua variabel. Oleh karena itu, meta-analisis ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, untuk mengevaluasi korelasi antara ADB beserta indeksnya (MCV, SI, TIBC, ferritin) dan kejang demam. Kedua, untuk mengestimasi sensitivitas dan spesifisitas pada masing-masing indeks ADB melalui analisis akurasi uji diagnostik untuk meningkatkan kekuatan penelitian ini serta memahami mana yang merupakan faktor prediktor yang lebih baik untuk hasil serupa.

1.2       Rumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan, maka permasalahan yang akan diteliti adalah:

  1. Berapa prevalensi anak usia balita yang mengalami kejang demam dan juga mengalami anemia defisiensi besi?

  2. Berapa nilai hubungan antara anemia defisiensi besi, beserta parameternya (MCV (mean corpuscular volume), SI (serum iron), TIBC (total iron binding capacity), ferritin) dengan kejadian kejang demam pada anak usia balita?

  3. Berapa nilai sensitivitas dan spesifisitas masing-masing parameter anemia defisiensi besi (MCV (mean corpuscular volume) SI (serum iron), TIBC (total iron binding capacity), ferritin) dengan kejadian kejang demam pada anak usia balita?

 

1.3       Tujuan

Tujuan Umum:

Menilai hubungan antara anemia defisiensi besi dengan kejadian kejang demam pada anak usia balita melalui telaah sistematis dan meta-analisis.

Tujuan Khusus:

  1. Mengetahui prevalensi anak usia balita yang mengalami kejang demam dan juga mengalami anemia defisiensi besi.

  2. Menilai hubungan antara anemia defisiensi besi, beserta parameternya (MCV (mean corpuscular volume) SI (serum iron), TIBC (total iron binding capacity), ferritin) dengan kejadian kejang demam pada anak usia balita.

  3. Menilai sensitivitas dan spesifisitas parameter anemia defisiensi besi (MCV (mean corpuscular volume) SI (serum iron), TIBC (total iron binding capacity), ferritin) dengan kejadian kejang demam pada anak usia balita.

 

1.4       Ruang Lingkup

Penelitian ini adalah penelitian telaah sistematis dan meta-analisis yang mencakup populasi pasien usia balita dengan kondisi kejang demam dan demam tanpa kejang.

 

1.5       Manfaat Penelitian

1.         Bagi Rumah Sakit

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendukung implementasi program keselamatan pasien agar tidak terjadi kejang berulang.

2.         Bagi Petugas Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan mengenai hubungan antara anemia defisiensi besi dengan kejang demam pada anak usia balita sehingga memberikan tatalaksana secara komprehensif terhadap pasien.

3.         Bagi Pasien

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi masyarakat mengenai anemia defisiensi besi sebagai salah satu faktor risiko pada kejang demam sehingga masyarakat dapat melakukan tindakan pencegahannya.

4.         Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan mengenai  hubungan antara anemia defisiensi besi dengan kejang demam pada anak.

 

UNTUK SELENGKAPNYA KLIK DISINI !!!